Ilustrasi perbandingan buku monograf dengan buku referensi

Perbedaan Buku Monograf dan Buku Referensi

Seorang dosen baru saja menyelesaikan penelitian selama dua semester. Laporan penelitiannya rapi, datanya lengkap, dan ia ingin menerbitkannya menjadi buku. Ketika naskah itu dibawa ke penerbit, muncul pertanyaan sederhana yang ternyata tidak mudah dijawab: buku ini akan diterbitkan sebagai monograf atau sebagai buku referensi. Keduanya sama-sama buku ilmiah, sama-sama tebal, dan sama-sama ber-ISBN, tetapi cara menyusunnya berbeda cukup jauh.

Kekeliruan memilih kategori bukan persoalan sepele. Naskah monograf yang dipaksakan menjadi buku referensi akan terasa seperti laporan penelitian yang dipotong-potong, sedangkan bahan buku referensi yang ditulis dengan pola monograf akan sulit dipakai pembaca yang hanya memerlukan satu topik tertentu. Penjelasan berikut menguraikan perbedaan buku monograf dan buku referensi dari sumber materi, struktur, cara pembaca menggunakannya, sampai cara menentukan pilihan yang tepat untuk naskah Anda.

Sekilas tentang buku monograf

Buku monograf adalah karya ilmiah yang membahas satu topik atau satu permasalahan secara mendalam dan tuntas dalam satu buku. Sumber utamanya umumnya satu penelitian atau satu rangkaian kajian yang saling terhubung, sehingga isi buku membentuk satu argumen utuh: ada persoalan yang diajukan di awal, ada analisis yang dikembangkan dari bab ke bab, dan ada simpulan yang menjawab persoalan tersebut di bagian akhir.

Karena berangkat dari penelitian, struktur monograf biasanya mengikuti alur karya ilmiah. Bab awal memuat latar belakang dan rumusan masalah, dilanjutkan kajian teori atau pustaka, metode yang digunakan, hasil dan pembahasan, lalu simpulan. Pembaca yang ingin memahami isi monograf perlu membacanya secara berurutan, sebab bab-babnya saling bergantung. Nilai utama monograf terletak pada kebaruan temuan dan kedalaman analisis penulisnya terhadap topik yang dibahas.

Monograf umumnya ditulis oleh peneliti atau tim peneliti yang melakukan kajian itu sendiri. Nama penulis pada sampul buku dengan sendirinya melekat pada temuan yang dipaparkan, dan buku ini sering menjadi bentuk publikasi lanjutan dari laporan penelitian, tesis, atau disertasi yang disunting ulang agar layak dibaca khalayak yang lebih luas.

Sekilas tentang buku referensi

Buku referensi adalah buku yang menghimpun dan menata pengetahuan suatu bidang agar mudah dijadikan rujukan. Isinya tidak dibangun dari satu penelitian, melainkan dari banyak sumber: teori yang sudah mapan, ketentuan resmi, data, dan pengalaman praktik yang relevan. Setiap bab atau entri disusun agar dapat berdiri sendiri, dilengkapi indeks dan glosarium, sehingga pembaca dapat langsung membuka topik yang ia perlukan tanpa membaca keseluruhan buku.

Pembahasan mengenai pengertian, ciri, jenis, dan struktur buku rujukan ini dapat dibaca lebih lengkap pada artikel apa itu buku referensi di blog ini. Bagian berikut memusatkan perhatian pada perbedaannya dengan monograf, karena di situlah kebingungan calon penulis paling sering muncul.

Perbedaan buku monograf dan buku referensi

Sumber materi

Monograf bertumpu pada satu penelitian atau kajian utama milik penulisnya. Data, analisis, dan simpulan di dalam buku merupakan hasil pekerjaan penulis sendiri, didukung literatur sebagai pembanding dan penguat. Buku referensi bertumpu pada himpunan pengetahuan yang berasal dari banyak sumber dan banyak kajian. Penulis atau editor buku referensi berperan menyusun, menyeleksi, dan menata pengetahuan tersebut menjadi satu rujukan yang utuh, bukan melaporkan satu penelitiannya sendiri.

Kedalaman dan keluasan bahasan

Monograf sempit pada topik, tetapi dalam pada pembahasan. Satu persoalan dikupas dari berbagai sisi sampai tuntas, termasuk data dan perdebatan di seputar persoalan itu. Buku referensi berlaku sebaliknya: cakupannya luas mengikuti peta suatu bidang, sedangkan pembahasan setiap topik dibuat padat secukupnya untuk keperluan rujukan. Pembaca yang memerlukan pendalaman satu persoalan akan terbantu oleh monograf, sedangkan pembaca yang memerlukan gambaran banyak topik dalam satu bidang akan terbantu oleh buku referensi.

Struktur dan alur penulisan

Struktur monograf bersifat mengalir dan berurutan. Bab metode tidak dapat dipindahkan ke akhir, dan bab pembahasan kehilangan maknanya bila dibaca sebelum bab yang memuat persoalan dan teori. Struktur buku referensi bersifat modular. Bab atau entri disusun menurut pola yang konsisten, misalnya alfabetis atau tematik, dan urutannya tidak mengikat pembaca. Perangkat penelusuran seperti indeks subjek, indeks nama, dan glosarium menjadi bagian penting buku referensi, sedangkan pada monograf perangkat semacam itu biasanya lebih sederhana.

Cara pembaca menggunakan buku

Monograf dibaca sebagai satu kesatuan, umumnya oleh pembaca yang memang meneliti atau mendalami topik yang sama. Buku itu dikutip untuk teori, temuan, atau pendapat penulisnya mengenai satu persoalan tertentu. Buku referensi dipakai secara insidental dan berulang oleh banyak kalangan: mahasiswa yang mencari definisi, dosen yang menyiapkan bahan ajar, atau praktisi yang memeriksa kembali suatu ketentuan. Buku referensi yang baik adalah buku yang sering dibuka pada halaman yang berbeda-beda oleh pembaca yang berbeda-beda.

Penulis dan proses penyusunan

Monograf lazimnya ditulis satu orang atau satu tim peneliti kecil yang mengerjakan penelitian yang sama, sehingga suara dan sudut pandangnya seragam dari awal sampai akhir. Buku referensi lebih sering ditulis bersama oleh beberapa penulis yang masing-masing menguasai subbidangnya, atau disunting oleh editor yang menghimpun kontribusi para penulis. Konsekuensinya, penyusunan buku referensi membutuhkan kesepakatan pola penulisan sejak awal agar bab-bab dari penulis yang berbeda tetap terasa satu buku.

Pembaruan dan masa pakai

Monograf terikat pada konteks penelitiannya: data yang dipakai, lokasi kajian, dan waktu pengambilan data. Ketika keadaan berubah, nilai monograf bergeser menjadi catatan ilmiah pada masanya dan umumnya tidak direvisi, melainkan dilanjutkan oleh penelitian baru. Buku referensi justru dirancang untuk diperbarui. Edisi revisi diterbitkan ketika ada ketentuan, data, atau perkembangan ilmu yang mengubah isi rujukan, dan pembaruan itu membuat buku referensi dapat dipakai jauh lebih lama.

Persamaan buku monograf dan buku referensi

Di luar perbedaan tersebut, keduanya memiliki landasan yang sama. Monograf dan buku referensi sama-sama buku ilmiah yang menuntut orisinalitas, ketelitian sitasi, dan bahasa yang dapat dipertanggungjawabkan. Keduanya melalui proses penyuntingan di penerbit dan diterbitkan dengan ISBN apabila diterbitkan oleh penerbit resmi, dan keduanya dapat menjadi luaran publikasi bagi dosen dan peneliti sesuai ketentuan yang berlaku di institusi masing-masing.

Persamaan lain yang sering luput diperhatikan adalah keduanya sama-sama dapat berangkat dari kegiatan penelitian dan pengabdian. Yang membedakan bukan asal kegiatannya, melainkan cara materinya diolah. Satu hasil penelitian yang dipaparkan secara utuh menghasilkan monograf, sedangkan kumpulan pengetahuan dari berbagai kajian dan sumber yang ditata ulang per topik menghasilkan buku referensi.

Contoh perbedaan pada topik yang sama

Perbedaan keduanya lebih mudah terlihat melalui contoh. Misalkan seorang dosen meneliti kesiapan keamanan informasi pada usaha kecil di satu kabupaten. Ia mengumpulkan data lapangan, menganalisis temuan, dan menyusunnya mengikuti alur penelitian dari latar belakang sampai simpulan. Naskah seperti itu adalah monograf: satu kajian, satu lokasi, satu rangkaian temuan yang menjadi milik penulisnya.

Dari bidang yang sama dapat pula lahir buku referensi apabila dosen tersebut, sendiri atau bersama kolega, menghimpun pengetahuan tentang keamanan informasi secara menyeluruh: konsep dasar, jenis ancaman, standar pengamanan, pengelolaan kata sandi, pencadangan data, sampai tata cara menangani insiden. Setiap topik disusun sebagai bab yang berdiri sendiri dan dilengkapi indeks, sehingga pemilik usaha maupun mahasiswa dapat membuka bab yang mereka perlukan saja. Materi lapangannya tetap dapat dipakai, tetapi posisinya berubah menjadi salah satu sumber di antara banyak sumber.

Kesalahan yang sering terjadi saat menyusun keduanya

Kesalahan pertama adalah menerbitkan laporan penelitian apa adanya sebagai monograf. Laporan penelitian ditulis untuk pemberi dana atau institusi, sehingga memuat banyak bagian administratif dan pengulangan yang tidak diperlukan pembaca buku. Monograf yang baik tetap mempertahankan alur penelitian, tetapi penulisannya disunting ulang: bagian administratif dibuang, bahasa laporan diganti bahasa buku, dan temuan diberi konteks agar pembaca di luar tim peneliti dapat mengikutinya.

Kesalahan kedua terjadi pada arah sebaliknya. Bahan buku referensi kadang disusun hanya dengan mengumpulkan artikel jurnal atau makalah penulis lalu menjilidnya menjadi satu berkas. Hasilnya bukan buku referensi, melainkan kumpulan tulisan dengan pola, istilah, dan kedalaman yang tidak seragam, tanpa indeks dan tanpa susunan topik yang jelas. Buku referensi menuntut penulisan dan penataan ulang per topik, termasuk menyeragamkan istilah serta membuang tumpang tindih antar bab.

Kesalahan ketiga adalah memberi label kategori hanya demi kesan tertentu, misalnya menyebut naskah monograf sebagai buku referensi agar terdengar lebih luas, atau sebaliknya. Editor penerbit membaca naskah dari isinya, bukan dari label yang ditulis pengirim, sehingga label yang tidak sesuai justru memperlambat proses: naskah akan dikembalikan untuk disusun ulang mengikuti kategori yang sebenarnya.

Menentukan pilihan untuk naskah Anda

Empat pertanyaan berikut membantu menentukan kategori sebelum naskah dikirim ke penerbit.

  1. Apakah materi utama naskah berasal dari satu penelitian saya sendiri, atau dari himpunan banyak sumber dan kajian
  2. Apakah pembaca perlu membaca naskah ini berurutan dari awal, atau cukup membuka topik yang ia perlukan
  3. Apakah setiap bab saling bergantung sebagai satu argumen, atau dapat berdiri sendiri sebagai entri rujukan
  4. Apakah buku ini kelak perlu diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan bidangnya

Jawaban yang condong ke pilihan pertama pada sebagian besar pertanyaan menunjukkan naskah monograf, sedangkan jawaban yang condong ke pilihan kedua menunjukkan naskah buku referensi. Ada pula naskah yang berada di tengah: laporan penelitian yang bab-bab temanya ternyata dapat berdiri sendiri. Naskah semacam itu masih dapat diarahkan ke salah satu kategori, tetapi keputusan harus diambil sebelum penyuntingan dimulai, karena mengubah kategori di tengah jalan berarti merombak struktur, menambah atau mengurangi bab, dan menulis ulang banyak bagian.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah tesis dan disertasi dapat diterbitkan sebagai monograf

Dapat, dan jalur ini termasuk yang paling umum. Tesis dan disertasi pada dasarnya adalah laporan satu penelitian mendalam, sehingga bahan dasarnya sesuai dengan karakter monograf. Yang perlu dilakukan penulis adalah menyuntingnya menjadi buku: memangkas bagian administratif khas naskah akademik, menyesuaikan sistematika dengan ketentuan penerbit, dan memastikan tidak ada ketentuan institusi asal yang dilanggar terkait publikasi hasil tugas akhir tersebut.

Apakah ketebalan buku menentukan kategorinya

Tidak. Monograf dapat lebih tipis daripada buku referensi, tetapi buku referensi yang sempit cakupannya juga dapat berukuran ringkas. Kategori ditentukan oleh sumber materi, struktur, dan cara buku dipakai pembaca, bukan oleh jumlah halaman. Menilai kategori dari ketebalan adalah kekeliruan yang membuat banyak naskah salah tempat sejak awal.

Apakah hasil penelitian sendiri boleh masuk ke buku referensi

Boleh. Hasil penelitian penulis dapat menjadi salah satu sumber di antara sumber-sumber lain, misalnya sebagai contoh penerapan atau data pendukung pada bab tertentu. Batasnya terletak pada porsi dan fungsinya: apabila keseluruhan buku bertumpu pada satu penelitian itu dan mengikuti alur laporannya, buku tersebut pada hakikatnya adalah monograf, apa pun label yang diberikan penulisnya.

Urutan kerja yang lebih hemat adalah memetakan materi sejak awal, menentukan kategori, lalu menyusun kerangka mengikuti template penerbit sebelum naskah dilengkapi. Apabila kerangka masih meragukan, penulis dapat mendiskusikannya terlebih dahulu dengan editor penerbit dan mengirimkan naskah melalui halaman pengiriman naskah Sah Publisher setelah kategorinya jelas, agar proses penyuntingan berjalan pada jalur yang benar sejak naskah pertama kali diterima.

1 thought on “Perbedaan Buku Monograf dan Buku Referensi”

  1. Pingback: Apa Itu Buku Referensi? Pengertian, Ciri, Jenis, Struktur, Fungsi, dan Cara Menerbitkannya – Penerbit PT Solusi Administrasi Hukum

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *